Beranda Berita Wisata

Viral Tarif “Parkir Mahal” Rp350 Ribu di Yogya, Sandiaga: Namanya ini Getok!

0

Beberapa waktu yang lalu, media sosial sempat heboh dengan pengakuan seorang netizen yang dibebankan tarif parkir bus yang cukup mahal di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Keluhannya terkait tarif parkir bus sebesar Rp350.000 untuk 2 jam parkir ini menjadi viral dan banyak mengundang komentar masyarakat. Kasri StoneDakon menyampaikan keluhan ini dalam grup Facebook.

Akun Kasri StoneDakon menyampaikan pengalamannya tersebut, “Kami hanyalah wisatawan lokal, tidak memiliki maksud jelek. Cuma kami mau tanya apa wajar jika kawasan Malioboro, tepatnya di belakang Hotel Premium Zuri, kalau tidak salah. Sebesar itu tarifnya, yaitu 350 ribu”

Fenomena mahalnya tarif parkir bus di kawasan wisata ini pun mendapatkan sorotan dari Menparekraf, Sandiga Uno. Sandiaga turut berkomentar dan menyebut bahwa hal itu merupakan ulah oknum nakal. “Itu namanya getok. Jadi, kalau tidak mau rezekinya dipatok, jangan kita ketok. Saya bilang rezeki itu lebih baik jika memanjang, bukan yang tinggi terus hilang. Tapi yang perlahan-lahan dan meningkat” ucap Sandiaga Uno.

Menerima laporan kasus getok tarif parkir mahal di kawasan wisata Malioboro, Sandiaga sudah menghubungi dan berkomunikasi dengan pihak Dinas Pariwisata Provinsi DIY. Sandiaga meminta kepada kepala Dinas Pariwisata DIY untuk membina oknum tersebut, sehingga ke depannya tidak ada lagi kejadian yang sama terulang.

Menurut Sandiaga, kejadian yang juga sering terjadi di beberapa destinasi wisata populer ini akibat adanya masa pandemi. Akibat masa pandemi selama 2 tahun belakangan ini, destinasi tempat wisata tutup karena PPKM dan tentu pemasukan berkurang atau bahkan tidak ada. Ibaratnya seperti berpuasa selama kurang lebih 2 tahun. Sandiaga pun memaklumi apabila oknum tersebut mengalami masa sulit akibat adanya pandemi COVID-19.

Sandiaga menambahkan, “Karena mereka ini bisa dibilang sudah berpuasa lebih dari 2 tahun ya, peningkatan tarif parkir ini tidak hanya terjadi di Yogya saja. Namun juga terjadi di Puncak dan Anyer. Kita menemui fenomena seperti ini, karena mereka sudah lama menunggu”

Adanya fenomena “parkir mahal” di kawasan Maliboro Yogyakarta ini cukup menjadi perhatian dari pemerintah. Sandiaga mendororng pendekatan secara dialogis sebagai salah satu langkah untuk menyadarkan oknum-oknum tersebut. Tujuannya supaya mereka tidak mengulangi tindakannya lagi di masa mendatang.

“Melihat fenomena seperti ini, pendekatannya mungkin tidak hanya dilakukan saja dengan pendekatan represif, seperti pemberian sanksi atau hukuman”. Namun lebih pendekatan secara dialogis kepada oknum-oknum tersebut.

Bagaimana mereka bisa menciptakan suatu sistem yang baik, sehingga orang atau wisatawan tidak kapok. Karena jika main ketok seperti itu maka mereka akan kapok dan tidak akan datang lagi. Sementara jika mereka membayar tarif parkir dengan biaya yang wajar, maka tentu wisatawan tersebut akan memberikan rekomendasi ke yang lain” imbuh Sandiaga.